Author: Success and Wisdom,
•11:25 PM








Alkisah di sebuah desa, tinggallah seorang ibu bersama anak tunggalnya yang telah beranjak dewasa. Sang ibu dan anaknya tinggal dalam kehidupan yang sederhana, bahkan kekurangan semenjak ditinggal oleh suaminya karena sakit.

Pada suatu hari sang anak sehabis pulang dari kerja, duduk termenung seorang diri. Mukanya penuh kekesalan, dan mulutnya tidak habis-habis mendumel. Sang ibu yang begitu menyayanginya pun datang menghampirinya, dan berkata :

"Kenapa engkau terlihat begitu sedih dan penuh kekesalan anakku"
"Kenapa hidupku selalu penuh dengan masalah, semua orang ditempat ku bekerja tidak ada yang menghargaiku, mereka selalu mengolok-ngolok diri ku, padahal aku bekerja sekuat tenaga" sahut anak itu kesal
Sang ibu mendengarkan keluh kesah sang anak, dan berkata:
"Nak, coba kamu liat bunga sepatu di belakang rumah kita"
"Dia selalu tumbuh, dan memperlihatkan kecantikkannya, walaupun tidak ada yang melihatnya, dia selalu menunjukkan keindahannya, tanpa perna merasa lelah, dan begitu orang melihatnya, orang akan terpesona atas keindahannya" sambung ibu tersebut
"Maksud ibu" tanya sang anak

Sambil mengusap lembut kepala si anak, sang ibu pun melanjutkan kata-katanya
"Seperti bunga sepatu di belakang rumah kita, begitu jugalah kita harus bertindak. Kerjakan lah
pekerjaan mu sekuat tenaga mu, tanpa memperdulikan kata-kata orang lain. walaupun tidak ada yang menghargai kerja keras mu, namun nantinya mereka akan menyadari betapa luar biasanya kita, seperti bunga sepatu yang begitu indah ditaman"

Sang anak mengangguk tanda mengerti, dan tersenyum sambil memeluk ibu tercintanya
"Terima kasih atas nasehatnya ibu" ucapnya penuh haru

~Sering kali dalam bekerja, kita selalu diremehkan, diolok-olok, bahkan tidak dihargai kerja keras kita, namun selalu lah bepikir positif, tunjukkan profesionalitas kita dengan sungguh-sungguh, niscaya orang yang dulunya meremehkan kita pun akan terpesona oleh hasil dari kerja keras kita~

Dari Saya,

Success and Wisdom

Bodhi Taruna


|
Author: Success and Wisdom,
•8:58 PM







Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah. Kepiting itu ukurannya kecil, namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu ditangkap pada malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom, tanpa diikat. Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus, lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari.


Yang menarik, tentu saja kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat. Namun, seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha meloloskan diri.

Jurusnya hanya satu, si penangkap tahu betul sifat para kepiting itu. Jika ada seekor kepiting yang nyaris meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar. Bila ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun. Begitu seterusnya, sampai akhirnya tak seekor kepiting pun yang berhasil kabur dari baskom.

Keesokan harinya, sang penangkap tinggal merebus mereka semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu.

~Cerita diatas sama dengan kehidupan yang biasa kita alami. Orang disekitar kita selalu merasakan iri atas keberhasilan kita, dan selalu ingin menarik diri kita ke dalam lubang kegagalan. Namun kita pun harus menyikapi dengan bijak, selalu berpikir positif, biarkan pandangan-pandangan negatif selalu menghalangi kita, buktikan dengan bijak, bahwa sukses selalu datang bagi orang selalu bekerja keras, dan memiliki visi untuk menang~

Dari Saya,

Success and Wisdom

Bodhi Taruna

(Artikel disadur dari eksiklopedia perilaku hewan)
|